Blub Blub

I hope life will stay the same. It is stagnant and we will have no desire to achieve something. That something I, somehow, adore.

The scarest thing of having dream is being commented, whether it is negative or sometimes the positive one. Even a very small dust can make you sneeze, but I hope that little bug in someone ear will never stop them to have a dream and achieve it. No matter what other said, don’t let their opinion go through your heart. Do from the smallest, do it sincerely and you’ll be fine.

My good friend once said, “Our truly enemy is someone closer than our enemy itself.” Well, I think it is right for now, hehe

Don’t forget to pray and do more than your best, because He always hear and Universe too =)

Because I like Dahlan Iskan and he says, “Work, work and work!”

And because I choose to not listen negative sounds like gossip or else, so what?

Have you ever bring along mirror when interact with others? You should. To let yourself know how you react and so on. Oh, I mean : “Have a reflection sometimes!” hehe

Have a nice day, everyone! =)

Advertisements

Dudidudam

I currently make hydrology report for my project. I looove doing such things. Make resume from book, type many words in stacks of paper or give corrections in others report. That’s my another passion as long as I can remember.

So, my writing report always begin with read some of materials, whether it is paper, book or previous report. The more I read, I think hydrology topic is very interesting. Interesting because I hardly understand what is it. Nerd, eh? Yes, I do! For classic case, many people will regret what did he/she do while writing final project or theses after read so many interesting about this field. “I regret because my topic is not that interesting”, “Don’t talk about that. It was so-s0 work” and many more.

Mmm, the best think you can regret about past is not telling it to the world you regret it, but fix what you can do now. Babbling about past (especially with wrong people who can’t understand you) is totally wrong. It just give another heartache for both side. Beside, study doesn’t stop with your college/school graduation, too.

Pelajaran moral

Dari 950-an kontak telepon genggam yang rusak kemarin, hanya 150 yang penting untuk diselamatkan. Pada akhirnya, hanya beberapa dari semua orang yang kita kenal yang benar-benar penting.

Namun di ujung garis finish, kita selalu sendiri. Yaa mungkin tetap akan ada yang ikut bahagia dengan kebahagian kita dan menemani di akhir yang sedih, tapi jangan lupa kita dilahirkan sendiri dan akan dimakamkan pun sendiri meskipun banyak yang menghanturkan selamat ataupun melayat.

Pada akhirnya sendiri.

Saya pun butuh untuk sendiri.

Superior?

Sudah tahu tentang kisah si Kliwon, jerapah satu-satunya di Kebun Binatang Surabaya?

Sedih. Itu saja yang bisa saya rasakan saat membaca beritanya. Kemudian menangisi kematiannya.  Itu saja, tidak ada hal lain lagi yang bisa saya lakukan.

Kemudian terpikirkan hal : bagaimana mungkin kita mengakui bahwa kita adalah makhluk superior? Jika hidup berdampingan saja tidak bisa? Hidup di dunia ini bukan hanya manusia sendiri, ada yang lain yang menghuninya, termasuk Kliwon dan kawan-kawannya. Bagaimana mungkin manusia bisa begitu egois mengeruk sumber daya alam untuk dirinya sendiri? Padahal manusia bukan satu-satunya penghuni Bumi.

Manusia lupa. Khilaf alasannya. Seringkali digunakan “khilaf” sebagai kata sakti. Sekali maaf kemudian selesai.

Tulisan inilah yang membuat saya sedih. Lagi.

Sebuah Analisis

Bersikeras untuk tidak mengikuti hiruk pikuk seminggu yang lalu dan memilih menunggu, itu juga hak saya sebagai warga negara, alih-alih mengambil yang banyak tersedia.

“Rakyat yang layak disantuni adalah mereka yang selama ini membisu dan enggan berteriak di jalanan. Mereka terdiri atas kaum miskin perkotaan hingga penduduk di desa tertinggal yang tak paham akan kegaduhan politik. Pada merekalah seharusnya poitikus bersandar, buka pada tekanan demonstrasi mahasiswa. Apalagi cara pelampiasannya anakistis, merusak fasilitas publik, dan mengganggu ketertiban umum.” – Rubrik Opini pada Tempo edisi 2-8 April 2012

Nisbi

Kebenaran itu pada suatu titik memiliki sifat nisbi. Terkadang masing-masing orang memiliki ego untuk benar. Dengan kata lain: setiap orang tidak ingin disalahkan. Entah itu karena faktor malu akibat disalahkan atau ego merasa selalu paling benar. Juga, karena setiap orang berpendapat, definisi benar salah itu tidak sama antara dirinya dengan orang yang menyalahkan.

Sampai kapan yang nisbi ini bermuara pada satu parameter mutlak? Atau memang dunia membutuhkan sesuatu yang nisbi agar selalu fleksibel dan terus hidup? Bukankan kebebasan setiap individu dibatasi oleh hak individu lain, termasuk bebas untuk merasa selalu benar?

Kebenaran yang saya maksud di sini bukanlah kebenaran 1+1 = 2. Tetapi ketika manusia diberi kebebasan untuk mendefiniskan 1+1 itu tidak selalu sama dengan 2.