Pelajaran moral

Dari 950-an kontak telepon genggam yang rusak kemarin, hanya 150 yang penting untuk diselamatkan. Pada akhirnya, hanya beberapa dari semua orang yang kita kenal yang benar-benar penting.

Namun di ujung garis finish, kita selalu sendiri. Yaa mungkin tetap akan ada yang ikut bahagia dengan kebahagian kita dan menemani di akhir yang sedih, tapi jangan lupa kita dilahirkan sendiri dan akan dimakamkan pun sendiri meskipun banyak yang menghanturkan selamat ataupun melayat.

Pada akhirnya sendiri.

Saya pun butuh untuk sendiri.

Advertisements

Superior?

Sudah tahu tentang kisah si Kliwon, jerapah satu-satunya di Kebun Binatang Surabaya?

Sedih. Itu saja yang bisa saya rasakan saat membaca beritanya. Kemudian menangisi kematiannya.  Itu saja, tidak ada hal lain lagi yang bisa saya lakukan.

Kemudian terpikirkan hal : bagaimana mungkin kita mengakui bahwa kita adalah makhluk superior? Jika hidup berdampingan saja tidak bisa? Hidup di dunia ini bukan hanya manusia sendiri, ada yang lain yang menghuninya, termasuk Kliwon dan kawan-kawannya. Bagaimana mungkin manusia bisa begitu egois mengeruk sumber daya alam untuk dirinya sendiri? Padahal manusia bukan satu-satunya penghuni Bumi.

Manusia lupa. Khilaf alasannya. Seringkali digunakan “khilaf” sebagai kata sakti. Sekali maaf kemudian selesai.

Tulisan inilah yang membuat saya sedih. Lagi.

Usual Talk

What did you have for breaksfast?

Um.. coconut rice and red curry fish. Did you have breakfast yet?

No, still full after 2 portion of rice last night *lying

Hey! Don’t eat your roommate then.

Ouch! You’re late. I just ate one of her leg!

-_______________________- 

Sebuah Analisis

Bersikeras untuk tidak mengikuti hiruk pikuk seminggu yang lalu dan memilih menunggu, itu juga hak saya sebagai warga negara, alih-alih mengambil yang banyak tersedia.

“Rakyat yang layak disantuni adalah mereka yang selama ini membisu dan enggan berteriak di jalanan. Mereka terdiri atas kaum miskin perkotaan hingga penduduk di desa tertinggal yang tak paham akan kegaduhan politik. Pada merekalah seharusnya poitikus bersandar, buka pada tekanan demonstrasi mahasiswa. Apalagi cara pelampiasannya anakistis, merusak fasilitas publik, dan mengganggu ketertiban umum.” – Rubrik Opini pada Tempo edisi 2-8 April 2012