Abu-abu kehidupan

Saat masih di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah, saya mempelajari sejarah. Sejarah republik ini dan juga dunia. Saya tidak percaya, tidak pernah percaya, bahwa tokoh yang menandatangani Perjanjian Renville dan orang yang ditembak mati karena sepak terjangnya yang dianggap membahayakan adalah orang yang sama. Saya hanya beranggapan bahwa kedua orang di atas, hanya memiliki kesamaan nama, dengan ideologi di kepala yang berbeda.

Mana mungkin. Mana mungkin seseorang yang pernah berjasa kepada negara, pikiran saya pada waktu itu, di kemudian hari bisa merugikan negara hingga pantas untuk diakhiri hidupnya. Berbagai peristiwa, seringkali membuat si-saya-kecil-pembaca-sejarah kebingungan.

Semakin ke sini mempelajari sejarah, saya semakin menyadari, kehidupan tidak berjalan secara sehitam putih itu, tidak sesederhana itu. Yang mana aspek benar-salah baik-buruk itu relatif adanya dilihat dari kacamata yang berbeda pula. Semakin menyadari bahwa logika dan ilmu itu teramat penting, dengan hati yang selalu menemani.

*efek langsung membaca buku Musso: Si Merah di Simpang Republik, salah satu Seri Buku Tempo: Orang Kiri Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s