Pantaskah?

Si penumpang tersenyum getir. Ia lelah. Ia lelah memikul lebih dari setengah beban kapal. Sedangkan ia sama sekali merasa bahwa pendayung, yang seharusnya memiliki tugas paling utama mendayung, tidak menunjukkan upaya untuk memikul setengah sisanya.

Si penumpang merenung. Di antara renungan serta lelahnya, salahkah ia jika memperhatikan lebih cermat perahu lain? Dengan pendayung yang menawarkan arah dan keselamatan yang lebih menjanjikan? Ia tak tahu, ia lelah berpindah perahu hanya untuk tujuan yang sama. Ia ingin di perahu ini saja. Yang ia inginkan, si pendayung memiliki usaha untuk mendayung lebih lagi.

Si pendayung seperti tahu isi hati penumpang. Ia menatap perahu lain dengan legawa. Tawaran yang pasti dan mantap tentu lebih pantas penumpang dapat. Toh, penumpang tak membayar sepeser pun untuk naik ke perahunya ini. Namun si pandayung ingin penumpang tetap di sini. Agar tak sepi suasana perahunya. Agar ada yang menemani meski si penumpang sedang tertidur. Agar dia tak sendiri hadapi laut yang tiba-tiba mengganas.

Mereka tak saling bicara, hanya menatap sedih. Mereka tak juga bicara, hanya saling menebak isi hati. Saling bertanya-tanya dalam hati, “pantaskah?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s