Sekarang (rupanya) berbeda

Dulu, rasanya saya bisa mendiamkan orang lamaaa sekali.

Sehari? Sering kalii..

Seminggu? Kuat kok.

Sebulan? Masih kuat juga.

Pasti setahun g pernah kan? Siapa bilang, pernah juga itu woi, haha.

Apalagi kalau berhubungan dengan orang yang dekat dengan saya. Tidak cuma (ehem), tapi juga teman baik, sahabat. Nah, itu apa lagi. Rasa gengsi sepertinya sudah setinggi langit ke-tujuh ditumpuk jadi tujuh juga *hayo lo*

Makin ke sini, entah itu makin tua atau makin banyak hal yang dipikirkan, rasanya tidak mau saja kalau hal yang sepele ini (yang sepele marahnya ya, bukan hal yang membuat marahnya) jadi berlarut-larut. Begituu..

Jadi sekarang sih niat (bahkan niat lho ini) untuk gengsi atau mendiamkan sudah tidak ampuh lagi dilakukan oleh saya. Godaan yang sebenarnya adalah keinginan untuk nyepet malah. Hahaha.

Entah berubahnya itu bagus atau tidak, tapi jelas menahan marah berlama-lama itu tidak baik (lagi-lagi menurut saya). Karena dengan memendam marah, saya merasa bahwa performa saya jauh menurun (performa naon deui? hoho). Jadi kalau saya tidak suka, sebisa mungkin saya bilang apa yang tidak disukai. Dan tanpa marah-marah atau diam tidak jelas.

Advertisements

Kelakuan pemudi (baca : saya)

Jadi ngumpulin kerjaannya besok ya, Dek. Jam 7 kita ketemu.

Begitu bunyi pesan singkat yang baru saja sampai di telepon saya. Waduh! kata saya dalam hati. Padahal baru saja saya bangun tidur dalam rangka pembayaran hutang tidur semalam.

Iya, setelah begadang memang badan jadi tidak bisa diajak kompromi. Terus merasa lapar, mood swing (apa yak bahasa indonesianya saya sedang malas menerjemahkan), merasa di awang-awang, setengah sadar mendengar orang berbicara (sumpah ini terjadi pada saya, bukan cuma di film-film fiksi, haha lebay). Itulah yang (setengah) terjadi pada saya jika memaksakan tidak tidur semalaman.

Hadeh, dengan kelakuan seperti ini berani-beraninya saya mimpi jadi istri apalagi jadi ibu. Bisa-bisa nanti anaknya bangun tidur lebih dulu dari ibunya. Mau ditaruh dimana muka sayaaa?? *mulai berpikir kejauhan*

Kata saya di pesan singkat pada R “kalo begadang aja jagoan, giliran disuruh bangun pagi langsung keok :|”

Raawrr

Pengen makan enak deh, tapi yang banyak juga porsinya.

Nasi kucing?

Dikit itu.

Belum beres kalimatnya : nasi kucing 20 bungkus

Haha, jadi nasi harimau dong namanya.

=))

Clearly

What can be said at all can be said clearly, and we cannot talk about we must pass over in silence.

-Ludwig Wittgenstein

Clearly Ludwig said, we can talk about everything we like, except the thing we don’t really know what is it. Many people do such thing recently. And somehow, my lecturer thought same things. He said it to me when the Kukar Bridge accident came up.

To give a comment about accident, we must know the initial condition, the exact cause, the existing situation, and profound analysis. If you don’t have all data I said before and never come to the accident scene, don’t you dare call yourself as an engineer in media. It’s such a shame to tell about thing you don’t really know.

-M. Cahyono

Anggota Baru

Perkenalkan anggota baru geng bokejari (boneka-boneka yang kehilangan jati diri) bernama *jengjeng* Budaru. Nama lengkapnya Budaru Bedici. Wah, ada penonton yang bertanya artinya ya? Jadi Budaru Bedici adalah akronim dari “Bunga dari (nama yang ngasih) Beli di ciwok”, haha.

Tidak seperti namanya, Budaru ini perempuan lho. Dapat dibuktikan dari semaraknya kostum yang ia kenakan dan wajah yang sedikit lebih cerah dibanding anggota bokejari yang lain. Selamat datang, Budaru. Untuk anggota lain, tolong itu dikader dulu anak barunya ;p

Budaru di tengah kepungan geng maskulin bokejari

 “Menyongsong cerahnya masa depan!” kata Budaru dalam pidato di upacara penyambutan anggota baru