Memaki dunia dan seisinya

Pernahkah berpikir ada saat ketika dunia meninggalkan kita? Semesta gegap gempita dengan sendirinya, meninggalkan kita yang memilih tak mau mengikuti ritmenya? Pernahkah merasa seperti itu dan memaki dunia dengan segala isinya karena meninggalkan kita?

Di sisi lain, pernah jugakah berpikir, apakah kita menghargai apa yang dunia berikan pada kita? Saya pikir, seharusnya kita lebih menghargai apa-apa yang sudah diberikan, bukannya mencari yang kita tidak punyai dengan mengorbankan yang kita punya, alih-alih memaki dunia dan seisinya. Silakan dijadikan bahan renungan. Saya tidak paham dan juga belum bisa mengerti.

Advertisements

Longing

There is a thing about longing. If you think you can forget it a while or even can’t sense it because of the busy-ness, I think you’re wrong. Totally.

Ayo dong si putih jangan ngambek duluu. Kamu harus kuat sampai beres, partner! Harus kuat yaak! *racauan di tengah nge-hangnya autocad di otak atom*

Ironi (1)

Ironi adalah ketika pekerjaan menjadi sebuah alasan untuk sejenak meninggalkan mengerjakan TA dan TA menjadi alasan untuk menghindari pemberian kerja yang amat terlalu. Benar-benar manusia abal perbatasan.

Semoga saya diberi waktu dan akal sehat agar dapat meneruskan postingan sambungannya : Ironi (2). Amin. *naooonnn

Dasar bocah

Saya : Belajar apa nanti di sekolah?
Bocah : Bahasa Sunda, Matematika, Agama, sama IPA.
Saya : Banyak banget! Sejam-sejam ya tiap pelajaran?
Bocah : Enggak.
Saya : Ooh, 45 menit ya kalo gitu?
Bocah : Enggak kok, 60 menit.

-__________________________________-“

Stella to Ted

I just reminded by my friend to it statement. I was forgotten that I ever wrote about it years ago. Haha, super random.

I know you are tired of waiting and you may have to wait a little while more but she’s on her way, Ted. And she’s getting here as fast as she can. – How I Met Your Mother

image from hereĀ