Haha

Saat nobar final AFF di himpunan..

Kameramen di TV selalu menyoroti cewek-cewek cantik *penting banget ya? haha*

A : Siapa tuh. Cantik bener

B : Ah, cuman rakyat jelata yang kebetulan cantik

*ngakak guling-guling*

Advertisements

Gara-gara Tak Tuk

Tadi malam adalah malam ketiga berturut-turut saya menginap di himpunan. Bukan, bukannya saya tidak punya kosan. Hanya saja suasana kosan sedang tidak kondusif untuk ditiduri (baca : sepi).

Tadi malam setelah makan rame-rame dan kembali di himpunan, ada desas-desus cerita horor dari Fitra. Sebenernya g kedengeran juga, cuma waktu itu kebetulan si Rizka mau ke kamar mandi.

“Mau ke kamar mandi, Riz?”, kata Ftra lagi, “ati-ati sama itu lho.”

“Apaan sih Fit, g kok,” sambil berjalan ke arah pintu, “Naa, kamar mandi yuukk.” *hahaha*

“Yuuk”

Kamar mandi yang kita tuju adalah kamar mandi CC, yang untuk mencapainya kami harus melewati Selasar Sipil.

“Apa sih cerita Fitra, Na?”

“G tau, Riz. G usah dipikirin lah.”

“Eh Riz, aku punya cerita lho.”

“Apa apa?”

“Cerita serem.” *DOENG

Kondisi saat itu : malem dan selasar sepi ditambah lagi partner kamar mandi saya ini g berani-berani amat.

“Jadi ceritanya gini gini gini (baca post “tak tuk tak tuk”).”

tiba-tiba…

“Aku g jadi ke kamar mandi, Na!” setengah berteriak, balik badan, dan kemudian lari.

Bengong sejenak. Kemudian spontan balik badan ikutan lari. Ngejar sambil meneriakkan serangkaian kata-kata.

“EH RIZ PARAH BANGET, LARI SENDIRIAN NINGGALIN!”

Masih sambil lari dan menjawab,” EH KAN TADI AKU UDAH BILANG G JADI KAMAR MANDII, HAHAHAHA.”

“PARAH LAH, TUNGGU WOY, HAHAHAHA”

Jadi intinya kita kejar-kejaran di Selasar Sipil sambil meneriakkan sumpah serapah *lebay* dan ketawa-ketawa konyol.

Sampai di depan himpunan kita masih g berhenti ketawa heboh sambil ngulang ngulang pernyataan “eh parah lah ninggalin”, “tiba-tiba balik badan”, “salah sendiri cerita serem”, “kan udah bilang g jadi ke kamar mandi” , gitu-gitu terus.

Sok-sokan berani dikombinasi sama setengah takut plus cerita serem. Ternyata bukan kombinasi yang tepat. Hahaha, kocak lah.

Tak Tuk Tak Tuk

Cerita ini adalah cerita serem. Buat yang penakut, atau lebih spesifiknya buat anak SIPIL yang penakut, mending dilewatin aja cerita ini. Soalnya latar tempatnya di selasar parkir sipil nih.

Hari Minggu. saya berangkat ke kampus setelah magrib. Rencananya mau nobar AFF di himpunan. Habis turun dari angkot di pintu masuk kebun binatang, otomatis bakal menyusuri selasar parkir sipil yang ada kolom batunya itu.

Awal masuk, langsung ada bunyi tak tuk tak tuk dari arah kiri.

“Kodok mungkin,” pikir saya.

Makin lama kok makin keras, perasaan makin g enak aja. Karena g enak ati itu saya pindah ke jalur kanan. Eeh, suara tak tuk tak tuk itu tetep ngikutin di sebelah kiri. Karena serem saya percepat jalan, makin deket keluaran selasar jalan cepet saya jadi setengah lari terus jadi lari penuh sampai himpunan.

Sampai himpunan.. lupa! Lupa sama kejadian di selasar parkir. *ngrok* Sampai kosan.. lupa! Lupa gara-gara Indonesia kalah dari Malay. (untung lah) Baru ingetnya kemarin gara-gara si Fitra cerita serem *meskipun g tau ceritanya apa* dan pulang dari makan kita rame-ramean lewat situ.

G tau itu suara apa, g mau tau juga itu apa (kalo ada). Yang jelas berasa beruntung aja jadi orang pelupa.

Long Live, Oda!

Saya penggemar komik, komik cowok pun saya embat.

Jadi awal ceritanya, si adek ini penggemar komik cowok. Tiap pergi ke persewaan komik, saya terpaksa mengalah, soalnya ada kuota maksimal bikinan kita sendiri yang harus dipenuhi waktu menyewa komik. G mungkin kan si adek bisa dan mau baca serial cantik. Gara-gara itu daftar sewaan komik kita g jauh-jauh dari genre komik cowok. Sebutlah Samurai X, Naruto, ataupun Harlem Beat kesukaan si adek, jadi kesukaan saya juga.

Yang paling saya suka, tentu saja, One Piece. Suka sekalii, sampai ngebela-belain beli komiknya meskipun udah baca scanlation-nya.

*

Itazura Na Kiss dan Fruit Basket adalah salah dua judul favorit komik lain. Ambil contoh keduanya dengan tarikan benang merah : kedua komik berakhir dengan akhir cerita menggantung. Bukan, bukan karena akhir cerita yang memang sengaja di-set menggantung. tapi faktor yang sama dari pengarang : kesehatan.

Pengarang Furuba (g usah sebut nama ya, percuma saya sama kalian yang baca juga g akan kenal, hoho) dengar-dengar terkena cedera lengan. Cedera lengan yang berpengaruh langsung pada kemampuan menggambarnya. Sampai sekarang pun entah bagaimana kabar kelanjutan komiknya.

Pengarang Itazura Na Kiss, lebih menyedihkan lagi, beliau meninggal gara-gara pendarahan waktu pindahan rumah. Walhasil, komiknya pun tidak pernah selesai. Menyisakan rasa penasaran pada  pembaca (baca : saya) tentang bagaimana akhir kisah Naoki-Kotoko.

*

Berangkat dari fakta itu, saya jadi mengkhawatirkan Oda (komikus One Piece). Sampai sekarang, One Piece sudah sampai chapter 507. Takut jika sejauh ini ada hal-hal teknis kesehatan yang mengakibatkan ketakterselesaikannya komik favorit saya ini. Oleh karena itu dalam setiap kesempatan, kalau ingat, saya selalu menyempatkan diri berdoa untuknya. Saya tidak ingin cerita ini berakhir begitu saja tanpa saya tahu bagaimana akhirnya. *agak berlebihan, ahahaha*

Jaga kesehatan yak. Long live, Oda!

Absurd

Tidak mengharapkan dan menyangka akan mendengarkan percakapan macam ini dilakukan oleh lelaki-lelaki garang himpunan. Hahaha. Mulai yang nyata pembicaraan kaum lelaki (Santiago Bernebau *eh bener g nulisnya*- final AFF), TKI disetrika, sampai Raul Lemos-Krisdayanti-Pepi. -_______________-“

Hadeeuuhh.